Yap!! Judul ini saya pilih untuk menguji apakah blog saya bisa masuk search engine apa tidak?
nah, dengan dimasukkan judul ini, saya berfikir bahwa ini adalah judul yang banyak dicari oleh para manusia indonesia..
hehehehhe,,
euuyy, bagi kalian kalian yang butuh uang jajan, saya ada tawaran menarik!
yaitu dengan Rp 0,- anda bisa menghasilkan uang milyaran rupiah!
masih penasaran? buruan klik link --> KLIK DISINI
dijamin bebas virus, bebas tipu tipu, dan aman 100%!!
Selasa, 27 Januari 2009
Selasa, 20 Januari 2009
SPBU yang Menjual Isi Perut??
Bandung - Apabila bahan bakar kendaraan anda habis, kemana anda akan mengisinya? Yup, tentu saja ke SPBU. Tapi hati-hati jika anda berada di Lembang. Karena tak semua SPBU di daerah ini menjual bahan bakar seperti premium, pertamax, ataupun solar. Loh kok?
Di tengah serbuan wisata kuliner yang ada di Bandung, konsep 'beda' tampaknya harus menjadi modal utama. Konsep ini tampaknya dianut pengelola POM Tahu di Lembang. Meski tahu adalah makanan yang biasa dan bisa ditemukan di mana-mana, namun hanya di tempat ini pengalaman unik akan anda rasakan. Tak percaya?
Dari kejauhan, anda akan menyangka jika tempat ini benar-benar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) atau biasa disebut masyarakat sebagai pom bensin. Namun jangan terkejut, jika pom bensin di sini hanya menjual tahu, baik tahu yang sudah matang ataupun yang masih mentah.
Karena bentuk bangunannya mirip SPBU milik Pertamina, maka pusat jajanan tahu Lembang ini dinamai POM Tahu atau pusat orang makan tahu. Diakui oleh Humas Tahu Lembang Santi Sulastri, kerap pengunjung yang kecele datang untuk mengisi bensin.
"Mereka mengira kalau bangunan ini adalah SPBU asli, tetapi setelah masuk mereka malah tertawa karena yang dijual di sini bukannya bahan bakar melainkan tahu," ujarnya.
Menurut Santi konsep SPBU ini dibuat bagi konsumen yang ingin drive thru. "Jadi mereka tidak perlu repot-repot untuk turun dari mobil. Mereka cukup memesan dari mobil saja dan membayarnya di mobil," tuturnya.
Santi menjelaskan kuliner yang khas di POM Tahu adalah tahu susu dan tahu bulat. Khusus untuk tahu bulat, pihaknya hanya menjual pada akhir minggu saja. Harganya sekitar Rp 10 ribu per porsi. Per bulannya, diproduksi sekitar 50 ribu tahu.
Bagi para konsumen yang ingin makan di tempat ini, anda harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 5 ribu sebagai tiket masuk dan bisa ditukarkan dengan Welcome Drink.
Tak hanya tahu yang dijual, di POM tahu disajikan aneka kuliner lainnya seperti batagor, mie kocok, dan juga bandrek, dengan harga yang terjangkau berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 35 ribu. Bagi konsumen yang aktif merokok, area ini juga menjual berbagai rokok yang khas dari daerah Solo, Jawa Tengah.
Jika anda tak ingin segera beranjak meninggalkan tempat ini, area yang berdiri di atas lahan seluas 17 ribu meter persegi ini, menyediakan berbagai macam permainan, seperti lorong sesat, becak mini, dan panjat tebing. Aneka permainan ini bisa anda nikmati bersama putera puteri anda.
POM Tahu yang berada tidak jauh dari Grand Hotel Lembang ini, setiap harinya buka sejak pukul 11.00 hingga 23.00 WIB. So, kini anda tak perlu bingung lagi bukan menghabiskan liburan weekend nanti.
Minggu, 18 Januari 2009
After all, eat at mc d
Yak, hari minggu yang sedikt menyenangkan, mendatangi kawinan saudaranya teman.
barawal dari rencana mandatangi acara tepat jam 7 malam,
arrgghhh, biasa dengan segala mara halangan kembali lagi dan kembali lagi terjadi kejadian lelet melelet!!
makan OBat!!!!
barharap keleletani ini balak berkurang sedikit demi sedikit.
Amin!
barawal dari rencana mandatangi acara tepat jam 7 malam,
arrgghhh, biasa dengan segala mara halangan kembali lagi dan kembali lagi terjadi kejadian lelet melelet!!
makan OBat!!!!
barharap keleletani ini balak berkurang sedikit demi sedikit.
Amin!
Minggu, 11 Januari 2009
Harga BBM Turun, Harga-harga Lain Juga Harus Turun
Jakarta - Penurunan harga BBM ternyata tidak langsung diikuti oleh penurunan harga-harga lain termasuk sembako dan transportasi. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid mendesak agar pemerintah melakukan tindakan yang tegas guna mendorong penurunan tarif transportasi di dalam negeri, dengan diturunkannya kembali harga BBM.
"Saya juga harus tegaskan, kalau BBM turun, komponen harga yang lain seharusnya juga turun. Dulu transportasi naik tiket naik karena harga minyak naik, sembako naik. Kalau BBM turun semua komponen itu juga harus turun," tuturnya usai menghadiri acara HUT ke 62 BPK RI di Gedung BPK, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (12/1/2009).
Hidayat mengatakan, penurunan harga BBM sudah seharusnya dilakukan. Penurunannya juga jangan hanya berkisar premium saja tapi harus solar dan minyak tanah.
"Karena yang menyangkut hajat hidup orang banyak adalah solar dan minyak tanah. Sudah seharusnya turun karena harga minyak dunia sudah turun. Sebaiknya diturunkan secepatnya karena kalau dekat-dekat pemilu nanti takutnya nanti dikomentari politis," paparnya.
Selain itu dilanjutkan Hidayat, di era keterbukaan ini masyarakat harus tahu harga minyak turun. Kalau dulu dinaikan karena harga minyak naik, sekarang saat harga minyak turun BBM harus diturunkan.
"Berapa penurunannya, silahkan pemerintah kaji berapa yang ideal. Yang jelas harus signifikan sesuai dengan penurunan harga minyak dunia dan membawa dampak penurunan harga komoditas lainnya," katanya.
Hidayat menilai, penurunan harga BBM yang akan dilakukan pemerintah sama sekali tidak ada kaitannya dengan Pemilu 2009.
"Penurunan itu kan terkait dengan naik turunnya minyak jadi intinya goodwill pemerintah harus ada turunkan harga BBM tanpa harus dikaitkan dengan Pemilu 2009," kilahnya.
Selain itu, mengenai program stimulus Rp 50 triliun yang disediakan pemerintah di 2009, menurut Hidayat itu merupakan hal positif.
"Cuma realisasinya jangan hanya bisa dinikmati oleh pengusaha-pengusaha tertentu. Stimuluus itu bisa dirasakan oleh smua masyarakat karena rakyat menunggu stimulus yang berkeadilan dan merata," pungkasnya.
Di tempat yang sama, Ketua BPK Anwar Nasution mengatakan saat ini auditor BPK juga sedang melakukan audit terkait penerapan harga BBM dikaitkan dengan harga minyak internasional.
"Dari dulu saya sudah katakan harga BBM itu ikuti harga pasar, jangan di pantekin. Seperti Tangguh yang kita rekomendasikan untuk dinegosiasikan ulang karena harganya lebih murah. Masa jual ke China lebih murah daripada jual ke masyarakat miskin. Pokoknya jangan coba-coba melawan harga pasar," tuturnya.
(dnl/qom)
Sabtu, 10 Januari 2009
Pemimpin Hamas Sebut Serangan Israel Sebagai Holocaust
Damaskus - Pemimpin Hamas Khaled Meshaal menuding Israel telah melakukan 'holocaust' di Gaza. Menurutnya, aksi militer Israel tersebut hanya semakin membenamkan Gaza ke dalam 'lautan darah.'
"Aku tanya kalian hai orang-orang Israel, apa yang telah kalian dapat dengan perang yang kalian dukung ini? Apa yang kalian peroleh kecuali membunuh anak-anak tak berdosa dan menciptakan tumpukan tengkorak dan lautan darah di Gaza?" seru Meshaal dalam pidatonya di Suriah yang disiarkan stasiun-stasiun televisi Arab seperti dilansir Reuters, Sabtu (10/1/2009).
"Apa yang kalian raih kecuali holocaust yang dengannya para pemimpinmu ingin memenangkan pemilu mendatang?" lanjutnya.
Holocaust merupakan istilah untuk menyebut pembantaian orang-orang Yahudi oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II. Sekitar 6 juta orang Yahudi menjadi korban keganasan Hitler dalam peristiwa tersebut.
Meshaal yang tinggal di Suriah itu menilai Israel sengaja menarget warga sipil untuk merontokkan moral para militan di Gaza. Dia berulangkali menyebut syarat gencatan senjata yang diinginkan Hamas, semisal diakhirinya blokade Israel yang menjadi salah satu penyebab Hamas enggan melanjutkan perjanjian damai.
Meshaal juga mengatakan, serangan Israel ke gaza tak akan berhasil mencapai tujuan militernya. Buktinya roket masih tetap diluncurkan oleh orang-orang Palestina ke Israel. "Kalian telah menciptakan perlawanan di setiap rumah dan kota," tegasnya.
Israel, lanjut Meshaal, justru kalah dalam perang opini internasional. Buktinya demonstrasi digelar di seantero dunia guna mengecam serangan Israel.
"Kita tengah hidup di hari-hari paling sulit penuh peperangan. Yang kita butuhkan adalah perlawanan yang kuat di Gaza dan dukungan dari dunia Arab, Islam, dan internasional sampai agresi ini usai dan musuh mundur," serunya.
(sho/sho)
Samarinda versus Balikpapan
“Ini Balikpapan, Bung! Bukan Samarinda!”
Kalimat yang sedikit saya dramatisir itu, apa maksudnya? Tapi, dari kata dan nadanya, kita bakal segera tahu, memang “ada” beda antara Balikpapan, si Kota Minyak dengan si Kota Sarung, Samarinda.
DI KALIMANTAN Timur, Balikpapan dikenal sebagai kota bisnis. Bangunan-bangunan tinggi menjulang di sana-sini. Lokasi-lokasi hunian mewah, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat hiburan malam, hotel-hotel berbintang.
Balikpapan berada di pinggir laut. Pelabuhannya, Semayang, paling ramai di Kalimantan Timur. Airportnya berkelas dunia, namanya Sepinggan. Banyak perusahaan pertambangan besar berkantor di sini. Ada Pertamina, Unocal, Total Indonesie, Chevron, sampai agen telur ayam di Pandansari.
Tiap malam, kawasan Melawai ditongkrongi anak-anak muda dan tua. Kafe-kafe di Bandar, menyuguhkan pemandangan lepas, Selat Makassar. Di sini, ada kopi tubruk, sekoteng, ronde, roti bakar, mie godhog, apa saja. Soal harga, bisa diatur, tak perlu kuatir “dihajar”.
Lokalisasi agak jauh ke pinggir, agak jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Letaknya di kilometer 17, di jalan poros Balikpapan-Samarinda. Makanya, “pusat jajan” di Balikpapan dinamai “Kilo 17″. [Monggo pinarak, silakan ngicipi...]
Samarinda, ia merupakan pusat pemerintahan provinsi. Ia menang pada jumlah dan kemegahan kantor-kantor pemerintahan. Soal bangunan tinggi, perumahan bagus, pusat belanja, tempat hiburan malam, hotel berbintang, bisa dipastikan masih di bawah Balikpapan.
Masalahnya, apa sebab, saya merasa berjalan-jalan di Balikpapan lebih nyaman ketimbang di Samarinda? What happen, atuuh?
Ini dia yang belum benar-benar saya mengerti musababnya. Padahal, beberapa ruas jalan di Balikpapan maupun Samarinda sama-sama melengkung-lengkung, bergunung-gunung. Kualitas cewek-ceweknya pun tak ada beda: pesek-pesek. Pejabat dan pengusahanya juga sama-sama pelit. Harga sewa internet juga tak ada selisih: 6.000 rupiah perjam. Harga beras sama-sama mahal. Hawa sama-sama panas. So why?
Kalau boleh saya menjembengkan beberapa pengalaman “kecil”, mungkin ini antara lain pemicunya:
Posisi tempat duduk angkutan kota [angkot] di Samarinda, antarpenumpang saling berhadapan[U-shaped]. Di Balikpapan, kursi buat penumpang searah dengan sopirnya, semua menghadap ke depan. Buat saya, posisi kursi angkot Balikpapan, lebih nyaman ketimbang angkot di Samarinda. [Catatan: di sini, orang menyebut angkot sebagai "taksi". Untuk taksi "beneran", perlu ditambah kata "argo".]
Masalah kebersihan, saya yakin lebih banyak orang yang sependapat bahwa Balikpapan lebih oke. Jalanan, pasar, perumahan sampai terminal bus, jauh bedanya! Berjalan-jalan siang hari di Samarinda, terlebih melewati beberapa ruas jalan tertentu, bisa-bisa hidung penuh debu. Setiap perjalanan dari Samarinda menuju Balikpapan, saya selalu bersenang hati manakala turun di Terminal Bus Batu Ampar, Balikpapan. Sebaliknya, dari Balikpapan ke Samarinda, saya tidak akan pernah mau lagi turun di Terminal Bus Sungai Kunjang, Samarinda. Kada nyaman, leh! Saya lebih suka loncat di pangkalan ojek seberang, sebelum jembatan Mahakam.
Tata ruang kota Samarinda, oleh sebagian orang, dinilai awut-awutan. Sebagai pengguna setia angkot, saya pun sependapat. Saya lihat, rute angkot di Samarinda seperti benang bundhet, meliuk-liuk, bikin pusing penumpang. Yang mestinya bisa melalui jalur yang lebih pendek, diputar-putarkan dulu ke sana ke mari.
Kawasan Tepian Mahakam, tempat nongkrong orang Samarinda, atau yang kebetulan tengah berada di kota ini. Sayang, berbeda dengan Melawai di Balikpapan, sebagian pedagang di Tepian Mahakam suka “menghajar” pembeli dengan harga tak wajar.
Kalimantan Timur memang “lucu”. Kalau di provinsi lain, airport utama bisa dipastikan selalu ada di ibukotanya. Tetapi di sini, Balikpapanlah pemilik bandara internasional. Airport Temindung di Samarinda, cuma buat pesawat-pesawat perintis, kecil-kecil. Sebuah bandar udara yang lebih besar, sedang dalam tahap mula pembangunan di Sei Siring, Samarinda Utara. Tapi kayaknya, terkendala fulus.
Yang juga “lucu”, Markas Kepolisian Daerah [Mapolda] Kaltim pun bukan di ibukota provinsi, melainkan di Balikpapan. Tidak mengherankan kalau orang yang jadi Kapolda Kaltim pasti lucu-lucu.
Seorang kawan punya kelakar begini: “Di Balikpapan, kalau ada pengendara mobil atau motor nyelonong waktu lampu merah masih menyala, dia pasti alumni Samarinda.” Terkesan melecehkan? Begitulah…
Kawan saya yang lain, seorang penjaga warnet di jalan Ahmad Yani, Gunungsari, Balikpapan, punya komentar lebih “kejam” lagi,”Orang Samarinda susah diatur!”
Kesan dan penilaian yang kurang baik dari sebagian masyarakat terhadap Kota Samarinda inilah yang pada akhirnya akan bermuara pada satu kalimat politis: “Mengatur Samarinda saja tidak becus, kok mau memimpin Kalimantan Timur!” Hahaha, maafkan ai, Pak Wali…
Kalimat yang sedikit saya dramatisir itu, apa maksudnya? Tapi, dari kata dan nadanya, kita bakal segera tahu, memang “ada” beda antara Balikpapan, si Kota Minyak dengan si Kota Sarung, Samarinda.
DI KALIMANTAN Timur, Balikpapan dikenal sebagai kota bisnis. Bangunan-bangunan tinggi menjulang di sana-sini. Lokasi-lokasi hunian mewah, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat hiburan malam, hotel-hotel berbintang.
Balikpapan berada di pinggir laut. Pelabuhannya, Semayang, paling ramai di Kalimantan Timur. Airportnya berkelas dunia, namanya Sepinggan. Banyak perusahaan pertambangan besar berkantor di sini. Ada Pertamina, Unocal, Total Indonesie, Chevron, sampai agen telur ayam di Pandansari.
Tiap malam, kawasan Melawai ditongkrongi anak-anak muda dan tua. Kafe-kafe di Bandar, menyuguhkan pemandangan lepas, Selat Makassar. Di sini, ada kopi tubruk, sekoteng, ronde, roti bakar, mie godhog, apa saja. Soal harga, bisa diatur, tak perlu kuatir “dihajar”.
Lokalisasi agak jauh ke pinggir, agak jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Letaknya di kilometer 17, di jalan poros Balikpapan-Samarinda. Makanya, “pusat jajan” di Balikpapan dinamai “Kilo 17″. [Monggo pinarak, silakan ngicipi...]
Samarinda, ia merupakan pusat pemerintahan provinsi. Ia menang pada jumlah dan kemegahan kantor-kantor pemerintahan. Soal bangunan tinggi, perumahan bagus, pusat belanja, tempat hiburan malam, hotel berbintang, bisa dipastikan masih di bawah Balikpapan.
Masalahnya, apa sebab, saya merasa berjalan-jalan di Balikpapan lebih nyaman ketimbang di Samarinda? What happen, atuuh?
Ini dia yang belum benar-benar saya mengerti musababnya. Padahal, beberapa ruas jalan di Balikpapan maupun Samarinda sama-sama melengkung-lengkung, bergunung-gunung. Kualitas cewek-ceweknya pun tak ada beda: pesek-pesek. Pejabat dan pengusahanya juga sama-sama pelit. Harga sewa internet juga tak ada selisih: 6.000 rupiah perjam. Harga beras sama-sama mahal. Hawa sama-sama panas. So why?
Kalau boleh saya menjembengkan beberapa pengalaman “kecil”, mungkin ini antara lain pemicunya:
Posisi tempat duduk angkutan kota [angkot] di Samarinda, antarpenumpang saling berhadapan[U-shaped]. Di Balikpapan, kursi buat penumpang searah dengan sopirnya, semua menghadap ke depan. Buat saya, posisi kursi angkot Balikpapan, lebih nyaman ketimbang angkot di Samarinda. [Catatan: di sini, orang menyebut angkot sebagai "taksi". Untuk taksi "beneran", perlu ditambah kata "argo".]
Masalah kebersihan, saya yakin lebih banyak orang yang sependapat bahwa Balikpapan lebih oke. Jalanan, pasar, perumahan sampai terminal bus, jauh bedanya! Berjalan-jalan siang hari di Samarinda, terlebih melewati beberapa ruas jalan tertentu, bisa-bisa hidung penuh debu. Setiap perjalanan dari Samarinda menuju Balikpapan, saya selalu bersenang hati manakala turun di Terminal Bus Batu Ampar, Balikpapan. Sebaliknya, dari Balikpapan ke Samarinda, saya tidak akan pernah mau lagi turun di Terminal Bus Sungai Kunjang, Samarinda. Kada nyaman, leh! Saya lebih suka loncat di pangkalan ojek seberang, sebelum jembatan Mahakam.
Tata ruang kota Samarinda, oleh sebagian orang, dinilai awut-awutan. Sebagai pengguna setia angkot, saya pun sependapat. Saya lihat, rute angkot di Samarinda seperti benang bundhet, meliuk-liuk, bikin pusing penumpang. Yang mestinya bisa melalui jalur yang lebih pendek, diputar-putarkan dulu ke sana ke mari.
Kawasan Tepian Mahakam, tempat nongkrong orang Samarinda, atau yang kebetulan tengah berada di kota ini. Sayang, berbeda dengan Melawai di Balikpapan, sebagian pedagang di Tepian Mahakam suka “menghajar” pembeli dengan harga tak wajar.
Kalimantan Timur memang “lucu”. Kalau di provinsi lain, airport utama bisa dipastikan selalu ada di ibukotanya. Tetapi di sini, Balikpapanlah pemilik bandara internasional. Airport Temindung di Samarinda, cuma buat pesawat-pesawat perintis, kecil-kecil. Sebuah bandar udara yang lebih besar, sedang dalam tahap mula pembangunan di Sei Siring, Samarinda Utara. Tapi kayaknya, terkendala fulus.
Yang juga “lucu”, Markas Kepolisian Daerah [Mapolda] Kaltim pun bukan di ibukota provinsi, melainkan di Balikpapan. Tidak mengherankan kalau orang yang jadi Kapolda Kaltim pasti lucu-lucu.
Seorang kawan punya kelakar begini: “Di Balikpapan, kalau ada pengendara mobil atau motor nyelonong waktu lampu merah masih menyala, dia pasti alumni Samarinda.” Terkesan melecehkan? Begitulah…
Kawan saya yang lain, seorang penjaga warnet di jalan Ahmad Yani, Gunungsari, Balikpapan, punya komentar lebih “kejam” lagi,”Orang Samarinda susah diatur!”
Kesan dan penilaian yang kurang baik dari sebagian masyarakat terhadap Kota Samarinda inilah yang pada akhirnya akan bermuara pada satu kalimat politis: “Mengatur Samarinda saja tidak becus, kok mau memimpin Kalimantan Timur!” Hahaha, maafkan ai, Pak Wali…
Jumat, 09 Januari 2009
Kecam Agresi Israel, Mahasiswa di Samarinda 'Boikot' KFC
Samarinda - Aksi mengecam Israel yang menyerang Palestina terus bergulir. Di Samarinda, sekitar 200 mahasiswa menyerukan boikot terhadap 175 produk Amerika yang diduga buatan Israel.
Aksi itu digelar di Jalan Dr Sutomo hingga Jalan Letjen S Parman, Jumat (9/1/2009) pukul 16.45 Wita. Selain longmarch, mereka juga menempel poster ukuran besar bertuliskan 'Boikot Produk Israel' di restoran cepat saji KFC di Mal Lembuswana.
"KFC adalah jelas salah satu produk Amerika yang tidak lain juga Israel," kata Dedy Salman, seorang orator usai menempelkan poster tersebut di pintu
masuk KFC.
Sebelumnya sempat terjadi ketegangan antara mahasiswa dan belasan aparat kepolisian dari Satuan Samapta Poltabes Samarinda yang mengelilingi restoran cepat saji tersebut. Ketegangan muncul ketika 100 orang pengunjukrasa di antaranya berupaya masuk ke halaman Mal Lembuswana dan berorasi di depan restoran KFC tersebut.
Namun ketegangan tidak berujung adu fisik menyusul sikap kooperatif aparat
kepolisian terhadap mahasiswa. "Tidak akan ada kekerasan kalau kita berorasi di depan KFC. Saya jamin itu," kata salah satu orator.
Setelah perwakilan pengunjukrasa berhasil menempelkan poster boikot KFC, mereka pun membubarkan diri dengan tertib. Sementara Kasat Samapta Poltabes Samarinda Kompol Jepri Yuniardi SiK mengatakan, pusat-pusat perbelanjaan merupakan salah satu obyek vital yang mendapat pengamanan ekstra, terutama dari aksi-aksi unjuk rasa.
"Karena di dalam mal, banyak masyarakat yang membutuhkan ketenangan dan keamanan. Kita turunkan sekitar 2 pleton (60) orang anggota Samapta untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," kata Jepri.(ken/gah)
Langganan:
Postingan (Atom)