“Ini Balikpapan, Bung! Bukan Samarinda!”
Kalimat yang sedikit saya dramatisir itu, apa maksudnya? Tapi, dari kata dan nadanya, kita bakal segera tahu, memang “ada” beda antara Balikpapan, si Kota Minyak dengan si Kota Sarung, Samarinda.
DI KALIMANTAN Timur, Balikpapan dikenal sebagai kota bisnis. Bangunan-bangunan tinggi menjulang di sana-sini. Lokasi-lokasi hunian mewah, pusat-pusat perbelanjaan, tempat-tempat hiburan malam, hotel-hotel berbintang.
Balikpapan berada di pinggir laut. Pelabuhannya, Semayang, paling ramai di Kalimantan Timur. Airportnya berkelas dunia, namanya Sepinggan. Banyak perusahaan pertambangan besar berkantor di sini. Ada Pertamina, Unocal, Total Indonesie, Chevron, sampai agen telur ayam di Pandansari.
Tiap malam, kawasan Melawai ditongkrongi anak-anak muda dan tua. Kafe-kafe di Bandar, menyuguhkan pemandangan lepas, Selat Makassar. Di sini, ada kopi tubruk, sekoteng, ronde, roti bakar, mie godhog, apa saja. Soal harga, bisa diatur, tak perlu kuatir “dihajar”.
Lokalisasi agak jauh ke pinggir, agak jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Letaknya di kilometer 17, di jalan poros Balikpapan-Samarinda. Makanya, “pusat jajan” di Balikpapan dinamai “Kilo 17″. [Monggo pinarak, silakan ngicipi...]
Samarinda, ia merupakan pusat pemerintahan provinsi. Ia menang pada jumlah dan kemegahan kantor-kantor pemerintahan. Soal bangunan tinggi, perumahan bagus, pusat belanja, tempat hiburan malam, hotel berbintang, bisa dipastikan masih di bawah Balikpapan.
Masalahnya, apa sebab, saya merasa berjalan-jalan di Balikpapan lebih nyaman ketimbang di Samarinda? What happen, atuuh?
Ini dia yang belum benar-benar saya mengerti musababnya. Padahal, beberapa ruas jalan di Balikpapan maupun Samarinda sama-sama melengkung-lengkung, bergunung-gunung. Kualitas cewek-ceweknya pun tak ada beda: pesek-pesek. Pejabat dan pengusahanya juga sama-sama pelit. Harga sewa internet juga tak ada selisih: 6.000 rupiah perjam. Harga beras sama-sama mahal. Hawa sama-sama panas. So why?
Kalau boleh saya menjembengkan beberapa pengalaman “kecil”, mungkin ini antara lain pemicunya:
Posisi tempat duduk angkutan kota [angkot] di Samarinda, antarpenumpang saling berhadapan[U-shaped]. Di Balikpapan, kursi buat penumpang searah dengan sopirnya, semua menghadap ke depan. Buat saya, posisi kursi angkot Balikpapan, lebih nyaman ketimbang angkot di Samarinda. [Catatan: di sini, orang menyebut angkot sebagai "taksi". Untuk taksi "beneran", perlu ditambah kata "argo".]
Masalah kebersihan, saya yakin lebih banyak orang yang sependapat bahwa Balikpapan lebih oke. Jalanan, pasar, perumahan sampai terminal bus, jauh bedanya! Berjalan-jalan siang hari di Samarinda, terlebih melewati beberapa ruas jalan tertentu, bisa-bisa hidung penuh debu. Setiap perjalanan dari Samarinda menuju Balikpapan, saya selalu bersenang hati manakala turun di Terminal Bus Batu Ampar, Balikpapan. Sebaliknya, dari Balikpapan ke Samarinda, saya tidak akan pernah mau lagi turun di Terminal Bus Sungai Kunjang, Samarinda. Kada nyaman, leh! Saya lebih suka loncat di pangkalan ojek seberang, sebelum jembatan Mahakam.
Tata ruang kota Samarinda, oleh sebagian orang, dinilai awut-awutan. Sebagai pengguna setia angkot, saya pun sependapat. Saya lihat, rute angkot di Samarinda seperti benang bundhet, meliuk-liuk, bikin pusing penumpang. Yang mestinya bisa melalui jalur yang lebih pendek, diputar-putarkan dulu ke sana ke mari.
Kawasan Tepian Mahakam, tempat nongkrong orang Samarinda, atau yang kebetulan tengah berada di kota ini. Sayang, berbeda dengan Melawai di Balikpapan, sebagian pedagang di Tepian Mahakam suka “menghajar” pembeli dengan harga tak wajar.
Kalimantan Timur memang “lucu”. Kalau di provinsi lain, airport utama bisa dipastikan selalu ada di ibukotanya. Tetapi di sini, Balikpapanlah pemilik bandara internasional. Airport Temindung di Samarinda, cuma buat pesawat-pesawat perintis, kecil-kecil. Sebuah bandar udara yang lebih besar, sedang dalam tahap mula pembangunan di Sei Siring, Samarinda Utara. Tapi kayaknya, terkendala fulus.
Yang juga “lucu”, Markas Kepolisian Daerah [Mapolda] Kaltim pun bukan di ibukota provinsi, melainkan di Balikpapan. Tidak mengherankan kalau orang yang jadi Kapolda Kaltim pasti lucu-lucu.
Seorang kawan punya kelakar begini: “Di Balikpapan, kalau ada pengendara mobil atau motor nyelonong waktu lampu merah masih menyala, dia pasti alumni Samarinda.” Terkesan melecehkan? Begitulah…
Kawan saya yang lain, seorang penjaga warnet di jalan Ahmad Yani, Gunungsari, Balikpapan, punya komentar lebih “kejam” lagi,”Orang Samarinda susah diatur!”
Kesan dan penilaian yang kurang baik dari sebagian masyarakat terhadap Kota Samarinda inilah yang pada akhirnya akan bermuara pada satu kalimat politis: “Mengatur Samarinda saja tidak becus, kok mau memimpin Kalimantan Timur!” Hahaha, maafkan ai, Pak Wali…
Sabtu, 10 Januari 2009
Jumat, 09 Januari 2009
Kecam Agresi Israel, Mahasiswa di Samarinda 'Boikot' KFC
Samarinda - Aksi mengecam Israel yang menyerang Palestina terus bergulir. Di Samarinda, sekitar 200 mahasiswa menyerukan boikot terhadap 175 produk Amerika yang diduga buatan Israel.
Aksi itu digelar di Jalan Dr Sutomo hingga Jalan Letjen S Parman, Jumat (9/1/2009) pukul 16.45 Wita. Selain longmarch, mereka juga menempel poster ukuran besar bertuliskan 'Boikot Produk Israel' di restoran cepat saji KFC di Mal Lembuswana.
"KFC adalah jelas salah satu produk Amerika yang tidak lain juga Israel," kata Dedy Salman, seorang orator usai menempelkan poster tersebut di pintu
masuk KFC.
Sebelumnya sempat terjadi ketegangan antara mahasiswa dan belasan aparat kepolisian dari Satuan Samapta Poltabes Samarinda yang mengelilingi restoran cepat saji tersebut. Ketegangan muncul ketika 100 orang pengunjukrasa di antaranya berupaya masuk ke halaman Mal Lembuswana dan berorasi di depan restoran KFC tersebut.
Namun ketegangan tidak berujung adu fisik menyusul sikap kooperatif aparat
kepolisian terhadap mahasiswa. "Tidak akan ada kekerasan kalau kita berorasi di depan KFC. Saya jamin itu," kata salah satu orator.
Setelah perwakilan pengunjukrasa berhasil menempelkan poster boikot KFC, mereka pun membubarkan diri dengan tertib. Sementara Kasat Samapta Poltabes Samarinda Kompol Jepri Yuniardi SiK mengatakan, pusat-pusat perbelanjaan merupakan salah satu obyek vital yang mendapat pengamanan ekstra, terutama dari aksi-aksi unjuk rasa.
"Karena di dalam mal, banyak masyarakat yang membutuhkan ketenangan dan keamanan. Kita turunkan sekitar 2 pleton (60) orang anggota Samapta untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," kata Jepri.(ken/gah)
Kamis, 08 Januari 2009
Parpol Ramai Aksi untuk Palestina
Krisis Gaza 'Oksigen' untuk Parpol
jakarta- Krisis di Jalur Gaza menjadi 'makanan' empuk untuk partai-partai politik menjelang Pemilu 2009. Berbagai kegiatan pun digelar atas nama Palestina untuk menarik mata publik.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) misalnya. Beberapa waktu lalu, partai yang sukses pada Pemilu 2004 itu menggelar demo besar-besaran untuk warga Palestina. Mereka juga menggalang dana dengan program one man one dolar.
Seakan tak mau kalah, Partai Bulan Bintang (PBB) juga menggalang program serupa dengan one man one dinar untuk Palestina. Partai ini juga berencana memberi bantuan senjata untuk warga Palestina.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Gadjah Mada Hermin Indah Wahyuni menilai, fenomena semacam ini memang wajar terjadi. Partai politik, menurutnya, memang hidup dari isu-isu yang berkembang.
"Ya memang tidak bisa dipungkiri, eksistensi hadir dari hal-hal yang terjadi di sekitar kita," kata Hermin saat berbincang dengan detikcom, Jumat (9/1/2009).
Berikut wawancara Hermin dengan detikcom seputar 'kegiatan' parpol-parpol untuk warga Palestina.
Bagaimana dengan manuver dari parpol-parpol itu?
Itu wajar-wajar saja karena isu-isu semacam itu memang menjadi 'oksigen' untuk partai-partai khususnya parpol yang membawa nama Islam. Mereka sadar, isu ini memang memiliki daya pikat yang bagus. Maka mereka berlomba-lomba mencari simpati dari peristiwa itu.
Tapi ini jadi cuma seperti mengambil kesempatan dalam kesempitan?
Ya memang tidak bisa disalahkan juga. Peristiwa kan memang tidak bisa dikendalikan. Ini fenomena bagus dan punya hallo effect yang bagus. Itu disadari oleh parpol-parpol.
Tapi ini bisa menjadi tidak sehat kalau orang hanya terpancing dengan sesuatu yang bersifat tidak substantif dalam konteks Indonesia.
Mestinya parpol harus bagaimana?
Boleh-boleh saja menggelar aksi untuk Palestina. Tapi parpol sebaiknya membuat sesuatu yang menyejukkan. Misalnya saja dengan lebih mendorong pemerintah untuk berbuat, untuk bersikap terhadap krisis Gaza ini.
Mestinya parpol bisa mengajak orang berpikir, ini level internasional. Mestinya yang main negara, bukan orang. Apakah mau mengirim orang tanpa skema yang jelas. Itu tentu tidak rasional.
Mungkin parpol bisa mendorong negara untuk bersikap. Misalnya seperti di Libanon, kan tentara kita ada yang di sana. Mungkin bisa diarahkan begitu. Kalau hanya mengajak orang jihad, itu pembodohan di mana-mana.
Apakah isu Jalur Gaza ini pantas dijadikan bahan kampanye?
Ya seperti yang saya bilang tadi, ini memang 'oksigen' untuk parpol, tapi sebaiknya parpol-parpol itu tidak asal ikut-ikutan. Ini akan menjadi aneh kalau hanya respons sesaat.
Isu ini sama sekali nggak substantif. Sama sekali mereka tidak menjelaskan bagaimana mereka akan mengatur negara ini nantinya. Hanya parsial.(ken/nrl)
Rabu, 07 Januari 2009
Siti Nurhaliza - Lentera Timur Free Mp3 download
Album terbaru dari Siti Nurhaliza ini di luncurkan setelah natal 2008 di malaysia, singapura, Brunai serta yang terakhir di Indonesia. LENTERA TIMUR mengetengahkan konsep tradisional kontemporari guna mengobati kerinduan penggemar Siti yang selama beberapa tahun Siti hanya menghasilkan album bernuansa pop.
Menurut Siti, walaupun lagu-lagu dalam album ini berirama tradisional tetapi susunan musik dibuat mengikut citarasa masa kini dengan sentuhan musik moden. Namun cirikhas musik serta penggunaan alat musik tradisional amat dititikberatkan dalam penghasilan tiap lagu.
Track list (klik to download)
1. "Di Kayangan Kita" Johari Teh, Keon
2. "Bintang Malam" Johan Nawawi, Amran Omar
3. "Cinta Ini" Katon Bagaskara
4. "Ada Masa Mata" M. Nasir, Ad Samad
5. "Bulan Yang Mesra" Khairil Johari Johar, Zubir Ali
6. "Seloka Budi" Adnan Abu Hassan, Azam Dungun
7. "Rasa Antara Kita" Khairil Johari Johar, Zubir Ali
8. "Senyum Minang Manis" Zul Mahat, Abot
9. "Joget Menanti Kasih" S.Atan, Habsah Hassan
10. "Di Taman Teman" Fauzi Marzuki, Hairul Anuar Harun
11. "Jelmakanlah Ayumu" Pak Ngah
full album :
1.Siti Nurhaliza - Lentera Timur
album password :
http://www.misshacker.com
Selasa, 06 Januari 2009
Pengaruh Miras, Tiga Pemuda Gerayangi Siswi SMP
Surabaya - Kemolekan tubuh sebut saja Intan (14) pelajar SMP kelas III kawasan Surabaya Selatan, digerayangi tiga pemuda, setelah dirinya tak sadarkan diri akibat direcoki minuman keras (miras).
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Surabaya Selatan Iptu Sri Supatmi menerangkan, sebelum kejadian, korban pulang sekolah langsung dijemput oleh salah satu pelaku, minggu akhir Desember 2008 lalu.
"Setelah diajak berkeliling mengendarai sepeda motor, korban diajak salah satu pelaku itu ke sebuah lapangan di kawasan Barata Jaya," kata Iptu Sri Supatmi kepada wartawan di Mapolres, Selasa (6/1/2009).
Saat sampai di lapangan, dua pemuda yang tak lain rekan salah satu pelaku sudah menunggunya. Ketiga pelaku berkumpul dan berbincang-bincang tak jelas arahnya sambil pesta miras. Korban yang berada di lokasi itu, juga dipaksa ikut pesta dan minum miras.
Akibat pengaruh miras, ketiga pemuda secara bergiliran menggerayangi kemolekan tubuh dan menciumi wajah korban. Korban pun berontak dan meminta diantar pulang ke rumah orang tuanya di kawasan Kendangsari.
Orang tua korban curiga melihat kondisi Intan yang berbeda dengan hari-hari biasa. Intan pun mengaku ke orang tuanya, bahwa tubuhnya digerayangi ketiga pemuda itu. Orang tua korban pun mencak-mencak dan melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Surabaya Selatan, Jalan Dukuh Kupang Barat Surabaya.
"Setelah kami selidiki, kami menangkap satu pelaku. Sedangkan dua pelaku lainnya masih kita kejar," kata Supatmi. Tersangka yang tertangkap adalah Doni Prakoso (20) pemuda asal Bratang Gede. Sedangkan dua teman lainnya yang ikut menikmati tubuh korban, inisial AG dan TI masih dalam pengejaran polisi.(roi/fat)
Minggu, 04 Januari 2009
Masuk Sekolah 06.30 WIB, Siswa Mengeluh Masih Mengantuk
Jakarta - Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Fauzi Bowo tentang jam masuk sekolah menjadi pukul 06.30 WIB, dikeluhkan oleh sebagian siswa di SMUN 68, sekolah unggulan di Jakarta. Masuk sekolah lebih awal, para siswa mengeluhkan masih mengantuk.
"Masih mengantuk sih. Kita kan malamnya belajar. Belum lagi kita punya kegiatan ekstrakurikuler di luar jam pelajaran sekolah,"ujar seorang murid kelas X-1, Zaldy Dharmawan, ketika ditemui detikcom di SMUN 68, Jalan Salemba 18, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2009).
Pelajar yang tinggal di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ini berpendapat, hanya akan menambah daftar siswa yang terlambat masuk sekolah.
"Masuk jam 07.00 WIB saja masih banyak yang telat, apalagi pukul 06.30 WIB," katanya.
Di kalangan siswa, Pergub ini banyak mendapat respons negatif. Mayoritas siswa tidak menyetujui Pergub tersebut. "Saya kurang setuju kalau harus dimajukan jam sekolah kita," ujar siswi kelas XI, Ila.
Alasan Gubernur memajukan jam sekolah untuk mengurangi kemacetan di Ibukota dinilai Ila berlebihan. "Karena bukan cuma kita yang berangkat jam segitu. Banyak orang yang kerja juga yang keluar jam segitu," katanya.
Ila berpendapat, memajukan jam sekolah 30 menit lebih awal dari pukul 07.00 WIB bukan merupakan solusi untuk mengurai kemacetan di Jakarta. Volume kendaraan pribadi yang meningkat, justru yang menjadi penyebab utamanya.
"Banyak angkutan umum ditambah lagi dengan kendaraan pribadi. Itu yang membuat Jakarta macet," kilahnya.
(mei/nrl)
Prijanto Maklum Hari Pertama Pemajuan Jam Sekolah Belum Sukses
Jakarta - Kebijakan memajukan jam masuk sekolah yang berlaku efektif hari ini terus dipantau Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto. Prijanto mengaku memaklumi aturan itu meski sepenuhnya aturan belum bisa sukses di hari pertama.
"Itulah namanya mengubah kebiasaan. Saya paham kecenderungan manusia memang menentang perubahan," ujar Prijanto sebelum rapat paripurna DPRD di Gedung DPRD, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2009).
Meski banyak pro dan kontra, mantan Asisten Teritorial (Aster) KSAD ini juga yakin kebijakan ini akan berhasil memecahkan kemacetan. "Tapi ini akan selalu kami evaluasi," kata Prijanto.
Pemajuan jam masuk sekolah efektif berlaku hari ini. Namun dalam prakteknya pemajuan ini belum berhasil memecah kemacetan di Jakarta. Yang ada hanya mengubah kemacetan menjadi lebih awal.
Selain itu penerapan di sekolah juga belum diketatkan. Seperti SMA 68 Jakarta yang tetap memperbolehkan masuk muridnya yang datang terlambat pada pukul 07.00 WIB.
Bahkan, di SMA 70 Jakarta, puluhan anak sekolah yang datang terlambat diperbolehkan ikut pelajaran jam kedua.(nik/iy)
Langganan:
Postingan (Atom)